Inilah kisah sederhana dihorizon pengabdian , yang akan selalu membias diceleh celah pergantian masa, episode sederhana seorang muslimah lugu yang kemudian kusebut beliau sebagai pahlawan inspirasiku, saya tidak bias bertutur dengan indah atau menawan untuk memikat pembaca melirik tulisan ini. Apa yg tertuang singkat semoga bermanfaat…

Sebut saja namanya Ibu Mira wanita desa yang tidak tamat SD tetapi rajin mengaji Beliau menikah dan dikarunia 6 putra putri yang sehat dan normal. Dengan suami yang lebih muda dari beliau membuat ketimpangan dalam peradabaan rumah tangga. Bagaimanapun hidup tak seindah sinetron dan tak semudah menutup buku. Kerasnya derai waktu membuat polemic tersendiri dalam keluarga Bu Mira..,Beliau kerap kali mendapaat perlakuan yang tidak  adil dari suaminya. Suaminya suka berkata kasar dan seringkali hampir membuat karam bahtera  kapal kecil keluarga tersebut. Tetapi ternyata keluguan dan kesetian Bu Mira masih saja menjadi penyambung kelangsungan senyum dan canda keluarga kecil ini. Dan bila ditanya kenapa Ibu masih bertahan? Karena dalam pengabdian tidak ada lara “jawab Bu Mira’

Sahabat…tahukah kalian berapa  masa episode ketidadilan  dalam kapal keluarga Ibu Mira??? 30tahun …..bayangkan adakah manusia tangguh yang bias hidup dalam tekanan batin selama itu? Saya mungkin akan menjawab tidak mampu, anda mungkin akan bilang betapa bodohnya Bu Mira(sebagai ref. ibu Mira cantik dan sdikit bermateri) atau mungkin kalimat kalimat lain yang intinya bahwa kita tidak akan bertahan dalam posisi itu.

Namun kepahitan akan berbuah manis walau sangat terlambat, Beliau bilang menjadi pohon yang rindang dan bermanfaat itu lebih baik daripada menjadi benalu…. Walau aku pikir pepatah itu tidak sesuai dengan masa yang begitu lama. “sesudah kesulitan akan hadir kemudahan” “ sesudah kepedihan akan datang kebahagiaan” itu saja yang menjadi pegangan wanita lugu ini. Setiap pedih disertakanya doa yang dipintal jalin jemalin dihamparan sajadah lusuh dan dijulurkan ke Arsy, dan kudengar cerita permohonanya berilah kekuatan berilah ampunan sinarilah dan berkahilah. Maka setelah puluhan tahun berlalu Kun fayakun pun diturunkan dibahtera keluarga ini, yang kemudian sang suami menjadi lelaki paling baik sedunia dan Bu Mira menjadi muslimah yang berbahagia diusia senja melihat anak cucu tumbuh dan berkembang dalam kedewasaan masing masing.  “Berserah dalam kuasa Allah tidak ada yang sia-sia “ itu yang menjadi pesan beliau kepada generasinya..

Sahabat itulah kisah singkat pengabdian seorang muslimah,,,,sebagai istri,sebagai wanita,sebagai ibu dan sebagai hamba Allah yang bertempur dimedan juang yang ganas dan berbuah indah. Inilah pengabdian  yang akan selalu saya dan anda lewati sepanjang nafas melekat dalam raga. Akan ada luka akan ada cedera aka nada goresan-goresan yang menyayat dipalung palung jiwa tetapi semua itu bukanlah derita, setiap lara adalah cendera mata/bukti kita telah berjuang  di medan laga bahtera hidup yang fana….semua akan ada hasilnya cepat atau lambat kita akan menjadi juara…sahabat,tidak diperlukan piala dalam pengabdian kita tidak dibutuhkan pujian dalam menahan nyeri yang menyeruak jiwa. Setiap gelora senyum dibibir kita dalam keluarga kita itulah ijasah dari perjuangan kita yang tidak perlu dicatat dalam sejarah revolusi bangsa. Cukuplah kedamaian yang menjadi kubur bagi derita yang pernah kita tempuh dalam pngabdian ini.

Ketika kita befikir berkata itu lebih mudah dari pada praktek(benar memang) tapi tahukah sahabat bahwa kita telah kalah sebelum berlayar ke samudra pengabdian. Maka sesekali jangan pesimis jangan jatuh dalam stigma yang membuat kita tidak berani bertarung. Kita adalah muslimah mujahidah tangguh untuk keluarga kita untuk menjadi tauladan kaum kita setidaknya kita bias menjadi cerita indah untuk anak cucu kita. Salam berjuang di medan pengabdian wahai para muslimah tangguh..^^