Se’elok Pelangikah Akun FB’ku?

Aku tidak pernah memilih, tetapi kemudian nama ini melekat diragaku “Pendar Bianglala Wiwawii” . Ya, aku sangat menyukai kosa kata ini walau sejujurnya aku tidak pernah mengerti secara pasti maknanya. Sesuatu yang elok nan indah menyenangkan dipandang dan menyejukan, seperti pelangi yang siapapun akan selalu meluangkan waktu untuk mengagumi keindahannya. Dan bila sahabat menjumpaiku menjadi Pendar Bw itu hanya penyederhanaan petak umpet yang biasa dilakukan anak-anak saat berlarian di lapangan (mengenang masa kecilku)

 

Kemudian nyatalah aku ingin selalu berpendar, membias di semesta berbagi kasih dan kedamaian. Sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, seperti itu anganku dalam diam dan gerak dalam mimpi dan harap semua berpacu saling buru dalam doa usaha dan memupuk aza. Membentang Novena membelah detakku dialtarMu sesaat puja dan tasbih menyelami dasar samudera keagunganNYA.

Pelangi, adakah yang tidak menyukainya? Bahkan sosok ganas pun akan terkagum dalam diamnya. Menikmati panorama dalam bentangan biasnya seperti aura yang menyeruak pelupuk retina. Ah, sedang tidak menjabar hal remeh temeh akan tetapi kembali bersama tenggelam dalam keindahan pelangi.

Kemudian, aku tentu tidak seapik apa yang dirunut dalam tatanan kata. Karena aku masih manusia yang terbelenggu raga lengkap dengan sifat2 buruk yang belum terelakkan, mencoba dalam lintasan positif itu tentu sedang dalam proses akan tetapi pada garis finish belumlah sesuai dg apa yang disebut baik.

Pendar”, teriak seorang teman memanggilku. Aku menoleh dan tersenyum sambil menjawab.” Ada apa nizza?” buruan ditungguin dai tadi naskahnya sama penerbit. Aku terpaku menatap kosong pada layarku yang tak berisi apapun, “aku gag punya ide, otakku blank. Jawabku”. Dia melangkah menjauh kecewa dengan jawabku, kudengar dia mengoceh sendiri selintas syair pedasnya menyyeruak ditelingaku “percuma selama ini aku mengagumi tulisan-tulisanmu, membuat naskah 2halaman saja gag mampu.”

Aku tertegun, merasa bersalah dan tidak enak. Akhirnya diam-diam kumulai mensketsa ruang kosong didepan mataku screen putih yang menawarkan diri menjadi teman penggembaraan alam piker dan imajinasi yang sedang mentok.

Inilah aku, jabarku pelan dan mantap. Hadir dalam karya kecilku membias di langit biru. WIWAWII inilah pelangi yang sejujurnya dalam diriku, WIWAWII kepanjangan dari wisma wacana wisata ilmu. Inilah pendar yang kutawarkan kepada setiap mata yang  menatap tajam pada sosokku. Wiwawii adalah sebuah sanggar baca yang sedang yang kugantung di dinding mimpi, kemudian bersama kekuatan dan doa yang kupilin kelangit setiap saat mulailah wiwawii mendobrak gerbang realita. Ya, semua tampak nyata sekarang sebuah pondok baca dengan koleksi buku-buku berbagai macam genre telah ada memenuhi rak-rak wiwawii.

Teman, ini baktiku untuk lingkungan. Ini karyaku untuk diwariskan kepada generasi penerus Bangsa yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Dengan motto “mewujudkan intelektual yang intelek dan ber-hatinurani” serta “merengkuh cinta anak semesta” langkahku mantap dalam memperjuangkannya. Walao harus diakui semua tidak semudah membalik lembaran buku-buku, tidak segampang memetik daun dan bunga. Tapi lihatlah kini mulai terwujud nyata, ada dan bias diraba. Senyumku mengembang dalam kesendirian.

Pendar Bianglala Wiwawii, aku merasa seindah pelangi akunku…dan semoga teman-temanpun akan berfikir sama dengaku. Bila harus berbeda itu karena aku tidak mampu mengurai dengan mempesona.

Mantap hatiku, untuk mengirim apa yang sudah kubingkai dengan aksara yang entah mungkin tanpa makna. Kali ini aku akan membuat kejuatan padanya. Nezza, tunggulah aku masih bermanfaat walao terkadang mengecewakan. Mari kita berjuang kawan, “ Kita ada dan menjadi arca kehidupan, maka bingkailah sebuah prasasti untuk dikenangkan”