Aku tidak tahu berada di ruang apa saat itu (rahim), aku melihat perempuan itu (ibu) bersama laki-laki yang tak ku kenal, mereka bercanda dan tertawa tanpa adab. Selanjutnya ibu dan pria itu saling bercumbu, aku berontak aku berteriak, ibu dia bukan ayahku, kenapa ibu begitu? aku menendang-nendang sekuatku, tapi seolah ibu tidak  menghiraukanku. Dan akhirnya aku merasa tenagaku habis terkulai lemas tak berdaya memandang kelakuan dua nyawa dewasa.

Esoknya sebelum aku protes kepada ibu, aku melihat ibu berbincang-bincang dengan laki-laki lain, bukan…bukan laki laki semalam, bukan pula bapakku yang sudah menitipkan aku di rahim ibuku. Ibu dengan cakap pesona membuat laki laki yang kurang sopan itu makin beringas dan penuh nafsu pada sosok ibuku, tawar menawarpun terjadi tak begitu lama deal aku tidak memahami politik apa antara ibu dan pria itu sungguh aku tak mengerti hingga akhirnya aku memahami makar keduanya.

Malam-malam berganti dan ibu selalu begitu dengan laki-laki yang berbeda yanag tidak kukenal, setiap jeda aku selalu bertanya dimana ayahku ibu? ibu selalu tidak perduli dengan keadaan dan keberadaanku, bahkan ibu tak mengetahui siapa ayahku, bapakku yang telah menjadikan akau berada di rahim wanita seperti ibu. Aku lunglai dalam pengaharapan bahkana ku sering kali harus berjuang mati-matin melawan makanan2 dan cairan2 yang entah mungkin disengaja ibu agar aku ikut hanyut bersama urine yang keluar. Tapi, aku selalu bertahan bertahan dengan sisa2 kemampuan untuk tetap terikat kuat di arahim ibu….

Dan, hingga aku memahami ibuku seorang pelacur…  :(