Jalan ini sunyi, bahkan terkesan sepi

tak tampak jejak kaki, walao beribu langkah melalui

kau pernah mengikat inisialku di dinding tepi, ini

ku sengaja kemari, menengoknya lagi

dan, tiada lagi kini….

 

Banyak keleang disetiap jengkal bayang

mungkin itu yang menjadikan suram, kusam

pada seketsa samar yang nyaris hilang, biang

aku tak bertanya, mengapa..?

karena aku telah diajar menerima

 

Kumelangkah pergi, meninggalkan jejak kaki

agar kau tahu aku pernah kemari

menabur bunga pada kenangan suci

 

Kali ini ku terbang ke kota Warsawa

memetik bunga di Polandia

kubawa pulang ke Surabaya

menyemat nisan cinta yang pernah ada

 

kepada pelukis rasa

yang menggores kanvas dengan bingkai cinta

terimaksih, hormat terakhir yang ku ukir

kematian cinta bukanlah piagam akhir

 

terimakasih, telah membuat kisah pada lembaran yang sudah

untuk bintangku yang telah redup*