kala itu aku berdiri bersandar pagar sungai
engkau menghampiriku dengan sepotong rayuan
ah bukan, mungkin hanya sapaan lembut
seiring angin yang menggoyahkan kerudung hijauku

sayang, maukah kau menjadikanku tidak asing buatmu?
Aku tersenyum malu pada daun yang mengintip diam

sayang, kita hanya butuh keikhlasan untuk menyatukan perbedaan
tegasmu, padaku meyakinkan
ikhlas untuk tidak saling berterima kasih dan meminta maaf
kau adalah aku
aku adalah engkau
ikhlas untuk saling memahami
menjadi bagian untuk dipahami

adakah yang susah sayang?

Ketika kucoba pertajam pendengaran
ah, ternyata hanya rayuan pohon
yang meyakinkan bayanganya
kedekatan akan berefek keterasingan
keterasingan atas kedekatan
itu yang membuat kisah kian elok

sesaat ku termangu
dan berharap berada didlm kereta pasundan


menuju Solo kota tujuan