kulukis ruang pertemuan ini
ketika bulan berhenti di atas dahan
dan anggrek-anggrekku berkata: selamat
malam
pendar cahaya lilin-lili biru
menembus kerudungmu dalam remang
yang semakin larut
ketika mereka semua sudah pergi
satu per satu
sambil berpegangan tangan
menyeret gaduh yang menipis hingga
hilang bersama desah mereka
dan yang tinggal adalah sunyi bersama
aku
dalam temaran lilin-lilin biru
dan kami melukis bayangmu
pada dinding yang menunggu
bayanganmu lewat
pada suara yang akan menyapa: selamat
malam
pada kursi yang segera bergeser karena
ditarik
pada tang yang hendak terulur
pada tatapan yang menatap tak yakin
pada suara yang tak bernada tak bersyair
pada suara yang tercekat di lehermu
pada lentik bulu matamu
yang menghindari cahaya lilin biru
menunduk memungut kegugupan
mencari kata entah jatuh terselip di mana
dan pecahlah kesunyian itu
ketika tanganmu terulur
hendak membuka salam hati
melampaui gugup kata dan silau mata
dalam temaran cahaya lilin biru
“aku takut kehilangan jiwamu
di saat lilin birui sudah selesai mengawal
pertemuan kita
dan yang tertinggal hanyalah gelap yang
menyatu dengan gelap
lukisanmu di dinding bayangan juga
lenyap
tanpa pamit
tanpa membawa bekal
tanpa meninggalkan jejak
tanpa pamit meninggalkan jejak membawa
bekal
lilin biru
karen pendarmu maka dia ada
lilin biru
lilin
aku akan merindukan bayangamu
walau lilin telah berganti warna
dan berada di antara dua sosok lain
di ruang ini
di sini
tanpa terluka
karena aku siap
di sini
di ruang rupa ini
tanpa kata dan bayang

terisipantulan cahaya bayang semua yang
tersentuh
melukis mereka di dinding

menyibak keindahan yang membayang remang