Kagumku padanya membuat Tuhan pun cemburu

demikianlah, beberapa tahun lalu

perempuan tua itu selalu lewat di depan jendela ruang kerjaku

yang menghadap lorong sempit menuju mushala kampung

 

 

setiap subuh aku sudah di depan meja kerja

belajar dan bekerja, seperti kebiasaan bertahun-tahun di seminari dulu

 

 

suara azan membela hening pagi

perempuan tua bergegas dalam mukenah putih siap beribadah

menghadap Tuhan dan bercakap-cakap denganNya

mungkin dalam bahasa yang tak sempurna

sebelum membawa jualan di atas kepala menuju pasar

 

 

pagi ini bayangan perempuan tua dalam mukenah putih

kembali melintas di seberang jendela ruang kerjaku

bergegeas di antara daun palem, anggrek, dan tanaman hias

menyatu dalam hijau samadi pagi

 

 

dan aku melihat perempuan tua itu menoleh sejenak ke arah jendela hatiku

memindahkan seyumnya ke bibirku

ia tersenyum

aku tersenyumTuhan pun tersenyum

duniaku tersenyum

dan;

malam ini dalam balutan rindu sang fajar

yang tetap setia menunggu matahari

membiarkan malam melukis hening

tertera huruf-huruf yang merangkaimu

dalam iring doa, kurasakan engkau tersenyum…