dari malam ke malam seperti juga dari minggu ke minggu

dan dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun ia selalu ada di sana

wanita tua duduk dengan lampu minyak

dan beberapa onggok kacang goreng untuk dijual

 

setiap selang dua musim aku pasti mampir di jalan ini

membungkuk menatap wajahnya

menyapa dengan ucapan yang sama lalu membeli beberapa bungkus kacang goreng

 

dan dalam hitungan detik kacang berpindah ke tanganku

dan beberapa lembar rupiah berpindah ke tangannya

lalu uang kertas itu menghilang ke balik gulungan kain sarungnya

atau menyelinap ke balik kutang yang tidak lagi berisi

kemudian ia duduk tenang memandang jauh entah kemana

tak peduli pada bising kendaraan hilir mudik

 

beberapa hari yang lalu

aku mampir membeli sebungkus kacang dan makan di tempat

lalu sebungkus lagi

dan seterusnya hingga semua jualan nenek ini habis

 

senyumnya merekah, lebar, lama dan wajahnya amat bahagia

persahabatan tumbuh

ia membawa kenangan malam itu utuh pulang ke rumahnya bersama rasa segepok uang receh seribuan

yang mengganjal kain sarung tua atau kutangnya

ia terus tersenyum hingga ke dalam tidur dan mimpi malam itu

 

malam ini aku kembali ke sana ingin melihat kembali senyum itu

sayang, tak ada pelita menyala dan wajah perempuan tua,

dalam kelap-kelip lampu minyak menanti pembeli

dia telah pergi sehari, setelah senyum paling indah yang pernah kulihat malam itu

 

ya Tuhanku

ya saudaraku

ya sahabatku

jangan lalai melakukan kebajikan

karena senyum dan kebahagiaan orang miskin, tak akan datang dua kali.